Tentang blog ini

Blog ini berisi rekaman untuk selalu "take in the good" - meresapi sisi baik, indah, dan menyenangkan dari berbagai pengalaman. Upayaku mempertahankan emosi positif, meningkatkan rasa syukur, dan selalu merayakan kebaikan.

Friday, June 8, 2012

Letter for my daughters; The coolness of the eyes

Uni, Kakak,

Ayah mau share sesuatu tentang bagian dari doa yang sering disampaikan di acara2 keagamaan; Qurrata Ayun, atau The coolness of the eyes. Ini adalah ungkapan bahasa Arab untuk menggambarkan situasi dimana kondisi emosi kita, so much- so much relieve, begitu senangnya hingga meneteskan air mata. Dalam bahasa Inggris istilahnya the tears of joy.

Ayah ingat ungkapan ini waktu dapat cerita-cerita kalian selama seminggu terakhir. Ayah senang sekali Uni bilang ujiannya banyak yang sukses dan mudah2an bernilai bagus. Ayah juga luar biasa senang dengar Kakak, yg tadi cemas, optimis dengan hasil ujiannya. Kalian sudah dua tahun tertinggal pelajarannya karena di Australia, dan ayah cukup khawatir dengan pelajaran kalian di Indonesia. Alhamdulillah kalian tetap semangat, kerja keras, dan membuktikan kalian bisa mengejar ketertinggalan pelajaran. Insya Allah, Dia menjawab doa-doa kita.

Ayah juga senang dengar kalian enjoy memulai liburannya (hello they don’t even begin yet …) dengan acara nginap di hotel minggu lalu. Dengan city tour, nonton drama Lutung Kasarung di TIM dan ikut acara perpisahan twin dengan teman2 nya.

Kemarin dan hari ini, ayah tambah senang lagi mendengar kalian fun dengan program liburan di Bandung selama 2 malam.

Walaupun ayah tidak ada diantara kalian menikmati liburan, ayah mau kalian tahu ayah ikut senang dengan mendengar ceritanya.

Jangan lupa untuk tetap bersyukur, mengingat Allah, yang kadang menguji kita dengan rasa suka.

May Allah always gives us the coolness of the eyes …

90 million miles: Jason Mraz

Seorang sahabat, mahasiswi doktoral ECU, satu pagi tiba-tiba tanya lewat BBM; “Suka Mraz?” Aku jawab “suka”. Dan dia kirimkanlah 3 file mp3, lagu-lagu Jason Mraz dari album Love is four letter words. Sedang sendiri dan hening di PhD suite, aku dengarkan dengan hikmat lagu pertama yg dikirim: 90 Million Miles. Ternyata, bagusnya bukan main.

Menikmati musik, kadang seperti orang pacaran. Kita bisa jatuh cinta di “pendengaran pertama”. Dan lazimnya, itu cinta yang sejati dan tidak salah. Artinya, lagunya benar-benar enak. Itu yang terjadi dengan 90 million miles pagi itu. Mendengar chorusnya pertama kali, aku langsung merinding saking nikmatnya. Seriously.

Seharian, lagu itu menemaniku. Juga videonya di youtube, yang bikin aku tambah suka karena jadi tau konteks liriknya. Hmm, walaupun, kalau liriknya dihayati, perasaan jadi agak campur aduk karena ingat tantangan menyelesaikan disertasi dan keluarga. Yang jelas, semakin sering mendengarkan, semakin aku suka. Musik indah, yang bisa membuat kita tenggelam dalam racikan nadanya adalah sebuah rahmat. Sesuatu yang harus disyukuri.

Dulu, di acara Java Jazz Maret 2009, aku bergeming ketika istriku bergegas ke venue Jason Mraz. Aku malah memilih nonton band yang lain. Di rumah, walaupun ada DVD concert Jazon Mraz, aku pun segan menontonnya.

Sekarang, sudah hampir satu minggu “90 Million Miles” mengiringi hari-hari ku. Dari bangun pagi hingga menjelang tidur. Di kamar, di mobil, di kereta, di kampus ..

Dan lihatlah. Kadang, hanya perlu langkah ringan untuk berbagi nice things. Dan seringkali, kita tak pernah tahu, betapa berartinya itu bagi orang lain.

"Just now

That wherever you go

No you’re never alone

You will always get back home ….”

WAMi opening party @The Bakery

WAMi (Western Australia Music Industry) di pertengahan Mei memulai rangkaian acara penganugerahaan karya musiknya lewat WAMi Festival 2012. Aku sempatkan ikut acara opening partynya di The Bakery, satu klub di daerah Northbridge. Tertarik mengisi malam minggu di sini sambil ingin menjawab pertanyaan; seperti apa sih band-band terpopuler di WA penampilannya?

Penampilan band-band yang dihadirkan di acara itu sebenarnya tidak banyak yang istimewa. Secara teknis, sebagian besar kemampuan mereka belum terlalu matang. Cuma 2 atau 3 grup aja yang dapat perhatian khususku. Tapi tetap saja aku enjoy malam itu. Variasi musiknya, mulai dari Rock, Pop, Indie, Jazz, menolong terangkatnya suasana. Senang menyaksikan bagaimana mereka kreatif dan serius mengorganisir satu acara, dan bagaimana menciptakan flow acara yang melibatkan audiens.

Selain melepaskan keinginan menikmati musik dan performing art, aku juga menikmati menyaksikan bagaimana budaya kawula muda Perth, penonton paling banyak di sana, menikmati pestanya. Bagaimana kebiasaan bersosialisasi, bergaya, menjadi animal party dan berpesta seolah there is nothing like tomorrow. Bagaimana mereka membiarkan alkohol menemani mereka dan membuat mereka kehilangan sedikit demi sedikit kesadarannya. Sepertinya mereka ingin menunjukkan “Malam itu adalah malam yang harus dinikmati, besok dan hari berikutnya adalah cerita lain”. Well, sebuah hikmah lain untuk jadi bahan renungan.

V8 Supercars; Barbagallo Race

Lebih dari 20 tahun lalu terakhir aku melihat langsung balap mobil. Di Ancol waktu itu. Jadi, mengulanginya lagi, di Perth, tentu bukan kesempatan sembarangan. Excitement itu sudah mulai merebak sejak di kereta Transperth. Para fans balapan ini sudah mulai unjuk gigi menggunakan baju-baju berlogo tim balap mereka. Dari Clarkson, stasiun kereta paling utara Perth, kami dibawa layanan bus khusus ke Barbagallo Race.

Suasana balapannya bertambah kental begitu turun Bus. Deru mesin itu sungguh memekakkan telinga. Apalagi, sesekali helikopter menyiasati angle liputannya di atas arena. Pantas orang sinis bilang pengelola balapan mobil, paling tahu menghabiskan uang hanya untuk kebisingan.

Di arena, para fans itu bergerombol dengan perlengkapan pikniknya, kursi piknik dan kamera. Pemandangan yang seru. Sirkuit Bargallo memang bagus karena ada bagiannya yang berbukit sehingga bisa terlihat dari berbagai sudut. Tak bosan melihat mobil-mobil itu meliuk, memacu, menyalip.

Keriuhan di paddock pun jadi pemandangan tersendiri pula. Kesibukan para mekanik dan tim balap dan mobil pajangan yang ditampilkan di sana begitu seru. Tentulah tidak tinggal tingkah genit paddock girls yang bikin banyak penonton “panas dingin” dan minta foto bareng.

Suasana V8 Supercars race ini jauh berbeda dengan suasana Ancol yang teringat oleh ku, selain soal kebisingan itu. Tapi ini lebih menarik dan lebih seru.

Dan yang paling penting, acara ini berhasil memacu lagi hasratku untuk menuntaskan bagian-demi bagian disertasi ..

Beyond PhD + Pengalaman beragama

Berkat FB dan Whatsapp, aku kembali berhubungan dengan sahabat akrab di SMP yang kini menetap di Hongkong. Layaknya dulu waktu teenager, kami pun saling chat termasuk berlama-lama lewat telpon. Tapi bukan itu yang penting dalam posting ini. Ada yang berubah pada sahabat itu. Kerja di perusahaan multinasional, sempat tinggal di London, dia sekarang terkesan alim. Sangat alim, bahkan. Katanya, dia merasa benar-benar ingin “masuk Islam”. Dia sampaikan informasi website ceramah agama dari seorang professor bahasa Arab dan pendiri Bayyinah Institute dari Amerika, Nouman Ali Khan. “Insya Allah pandangan kau tentang Al-quran berubah. Coba lihat video2 nya, download mp3 nya”. katanya. Saran yang baik, dan tidak ada salahnya untuk dicoba.

Beberapa file video dan mp3 nya segera pindah ke Ipod ku. Sengaja kusisihkan waktu untuk menyimak materi kajiannya. Harus diakui, amazing. Brother Nouman punya pengetahuan canggih soal Al-quran dan aplikasinya. Kesimpulan ku atas teman tadi, pengalaman beragamanya meningkat mutunya karena ketekunannya mempelajari materi-materi agama. Kalau mau advanced dengan pengalaman beragama, tidak ada jalan lain; harus proaktif menambah ilmunya. Membaca ratusan jurnal akademik, berpuluh-puluh buku tentang yang jadi kajian PhD ku, mengapa tidak menyempatkan diri belajar agama?

Kini, bukan hanya beberapa file saja yang sudah pindah ke Ipod ku dari situs web Nouman Ali Khan dan Bayyinnah Institute. Hampir semua kajian tafsir Juz Amma’ dan ceramah-ceramah aku download. Aku juga ikut berlangganan postingannya supaya selalu update. Kadang di akhir pekan, teman tadi menelpon dan kami berdiskusi agama sambil sesekali bernostalgia.

Alhamdulillah, mendengarkan, mempelajari materi-materi agama lewat MP3 dan video ini sudah mulai jadi kebiasaan. Setiap hari, aku bisa mendengarkan atau melihat video agama 1-2 jam. Dugaan sahabat tadi tidak meleset. Pandanganku atas al-quran dan pengalaman beragama pun berubah. Tranquillity, as the fruit of Iman …pelan-pelan mulai lebih sering aku rasakan dari sebelumnya.p>

Menyelesaikan PhD, aku harap jerih payahku dan pengorbanan yang kulakukan hasilnya maksimal; sesuatu yang Beyond PhD. Gelar PhD dan kecakapan yang melekat di dalamnya, Ya. Produk sampingan dalam bentuk buku, Ya. Produk sampingan dalam bentuk modul pelatihan, Ya. Peningkatan wawasan dan mutu pengalaman beragama? Why Not? It seems a perfect combination anyway ..

Insya Allah ..

Sunday, May 6, 2012

I SHALL NOT HATE

Seperti biasa, makan siang ku di apartemen selalu di temani acara TV ABC News24. Siang itu, acaranya menyajikan Dr. Izzeldin Abuleish penulis buku “I Shall Not Hate” dalam sebuah wawancara di Sydney. Segera setelah acara ini tuntas, aku langsung searching buku tadi di public library Bentley, dan Gotcha! Mereka punya bukunya dan aku langsung reserve.

Tiga hari berikutnya, buku ini sudah jadi teman pengantar tidur dan weekend ku.

“I shall not hate” adalah memoir tentang bagaimana maaf, toleransi, rasa kemanusiaan menaklukkan kekecewaan, marah, frustrasi dan dendam. Apa yang bisa diperbuat orang yang istrinya meninggal karena kanker, kemudian 1 bulan berikutnya ia harus kehilangan 3 anak tercintanya sekaligus dalam satu bombardir tank tentara Israel? Ditambah dengan berbagai cobaan mahaberat lain dalam menjalani hidup dan kariernya, Izzeldin punya banyak alasan untuk membenci, melawan, memerangi, bahkan membunuh orang Israel.

Tapi bukan itu jalur yang dipilihnya. Dia malah bilang, “If I could know that my daughters were the last sacrafice on the road to peace between Palestinians and Israels, then I could accept it”

Tinggal dekat perbatasan Palestina & Istrael di jalur Gaza, Izzeldin tetap menjalankan profesinya sebagai dokter di Israel. Ia berusaha terus meyakinkan banyak pihak, bahwa perdamaian bukan harapan kosong di Palestina. Ia tidak berpikir sempit melihat Israel sebagai entitas tunggal dimana semua orang sama. Seperti juga ia berharap dunia termasuk Israel melihat tidak semua orang Palestina teroris.

Begitu banyak kesulitan hidup yang ia jalani berhadapan dengan orang Israel. Tapi itu tidak membuatnya meng-generalisasi tindakan yang diterimanya. Rasa marahnya, kalaupun ada, selalu difokuskan terbatas pada yang dikeluhkannya saja. Tidak merembet ke hal-hal lain atau malah menguasai dirinya. Izzeldin sadar itu hanya akan merusak dirinya dan perjuangan hidupnya. Dengan derita yang dialaminya, ia masih mampu bicara perdamaian dan menjaga hubungan baiknya dengan rekan-rekan Israelnya.

Buku “I shall not hate” ini kisah hebat tentang rasa sabar dalam menghadapi realita. Tentang bagaimana keteguhan dengan nilai prinsipil memberi panduan dalam melangkah. Bacaan istimewa untuk bercermin, bahwa kebencian dan permusuhan lebih sering jadi sumber petaka.

Saturday, May 5, 2012

International Jazz Day

Acara Jazz International Day ini diadakan atas kerja sama Perth Jazz Society, The Western Australian Youth Jazz Orchestra, dan The Duke Ellington Jazz Club. Yang terakhir ini adalah venue Jazz popular di kota Perth. Karena sudah cukup lama tidak nonton musik Jazz scr "live", ditambah dengan “dendam” 3 kali berturut-turut tidak nonton Java Jazz Festival, aku datang malam ke klub jazz itu dengan semangat tinggi.

Ada dua grup yang tampil malam itu. Yang pertama adalah grup jam session profesional Jazz terkemuka di Perth. Yang kedua, ensemble jazz dari Western Australian Academy of Performing Arts (WAPA). Nomor-nomor yang mereka mainkan terasa enak di telinga dan cukup atraktif aksi panggungnya. Mereka membawakan lagu orisinil ciptaan mereka.

Menonton Jazz adalah menyaksikan bagaimana kreativitas dipadukan oleh satu kerjasama yang penuh toleransi. Pemain, penyanyi harus tahu kapan dia mundur, berhenti dan kapan dia harus mencuat ke permukaan. Permainan jazz yang baik adalah permainan dari mereka yang sigap merespon, pantas dalam menentukan momen, dan konsentrasi dalam menghayati dinamika nada.

Memang, dari segi kemampuan, dua grup penampil ini tidak secanggih jagoan-jagoan Jazz Indonesia, sih. Tapi, ya keasyikan suasana klub ini malam itu tidak jelek. Pengunjung yang datang pun kelihatan cukup apresiatif.

All in all, satu malam yang menghibur. Cukuplah untuk recharge isi kepala, kembali menghadapi tantangan paragraf demi paragraf literature review ku.