Tentang blog ini

Blog ini berisi rekaman untuk selalu "take in the good" - meresapi sisi baik, indah, dan menyenangkan dari berbagai pengalaman. Upayaku mempertahankan emosi positif, meningkatkan rasa syukur, dan selalu merayakan kebaikan.

Tuesday, July 15, 2014

Java Jazz 2014

Java Jazz pertama, setelah 4 kali absen karena tidak di Jakarta. Yang pertama juga nonton dengan girls, sesuatu yang sudah kami niatkan cukup lama. Hari itu kami pilih RAN, mengulang lagi nonton konser mereka di Curtin University tahun 2010. Tambah matang mereka. Kemudian aku keliling mencicipi serba sedikit: Dewa Budjana, Richard Eliot, Norman Brown. Terakhir, aku dan Nita tutup dengan menyaksikan Jammie Cullum. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, meriah. Yang berbeda: Fisik ternyata sudah tak sekuat dulu. (Sadar ... nonton festival Jazz beginian sejak hampir 20 tahun lalu ...dari Jak Jazz pertama ..). Bagaimanapun, ini satu malam yang mengesankan. Masih pantas untuk didatangi lagi tahun depan.

Monday, August 26, 2013

Finally

Akhirnya di satu hari, tanggal 11 Juli 2013.

Dear Taufiq,

Today I have submitted paper and electronic copies. It took 2 days to get it copied and bound, but it's done now. Also, the examiners have been approved. Have a small celebration!

Kind regards, Peter

The light at the end of the tunnel

Ternyata, jalannya masih berliku. Turunan terjal, tikungan tajam. Semester 7 pun berlalu, visa habis, dan harus part-time enrollment. Berikut email Peter di bulan April 2013. Meskipun cahayanya masih samar, tetaplah sebuah harapan.

Dear Taufiq, Here is my review of Ch 2 pp 7-11. The main point is 31 - I suggest a new section highlighting your contribution to theory in all the related areas. It seems the most important section of the thesis to me. I should finish the ch in the next few days, the last sections do not need so much thought. I'm not sure I put it in the notes up to 22, but there should also be brief discussion of the meaning of the nonsignificant paths in this ch.

Now I can see the light at the end of the tunnel..

Cheers, Peter

Saturday, August 4, 2012

Persahabatan

Betapa besar peran persahabatan dalam banyak sisi kehidupan. Jauh dari keluarga 7 bulan terakhir, di negeri orang, aku merasakan betul tuah persahabatan. Banyak hikmah yang kuperoleh dari pergaulanku dengan beberapa orang yang cukup dekat di sini.

Merasa senasib dengan pergulatan menyelesaikan studi, keberadaan mereka memberi kekuatan tersendiri. Perhatian dan sapaan mereka adalah penyemangat. Kabar kelancaran progres studi mereka adalah driver. Jokes mereka pembangkit gairah. Di sisi lain, keluhan dan curhat mereka bisa menjadi peneguh hati.

Lebih dari itu, tidak jarang –dengan caranya sendiri-sendiri– mereka mengingatkan. Atau bahkan lebih tepat melindungiku, dari perilaku dan perbuatan yang tidak perlu. Kehangatan persahabatan, tak pelak lagi, menentukan secara signifikan keberhasilan studi.

Sydney3: Amazing Sydney

Sensasi itu sudah terasa saat beranjak dari parkiran Sydney domestic airport. Sahabatku menyebutnya “serasa di Jakarta”, dengan berseliewerannya mobil dan angkutan umum. Terbiasa dengan Perth yang kalem, metropolitan seperti Sydney terasa lebih vibrant. Sepintas, kaya Jakarta memang. Tapi, tunggu dulu. Tentunya minus polusi, kemacetan, dan manusia yang menyemut.

Di hari-hari pertama, kami menikmati suasana seputaran central station city dekat kampus UTS, dimana gedung bergaya Victorian berbaur dengan arsitektur modern. Atraksi-atraksi unggulan Sydney lain, menyusul. China town ala Glodok dan Darling Harbour yang mempesona dengan refleksi pemandangan city night nya jadi pilihan awal leisure kami.

Di kesempatan berikutnya, kami menikmati Bondi Beach yang bersih dengan langit birunya, dan Circular Quay dengan Sydney Rock dan Sydney Opera nya yang meriah. Betapa beruntungnya kami. Di tengah winter, kami mendapatkan anugerah hari yang cerah. Mostly sunny. Selain suasana kampus tengah kota UTS, kami putuskan juga untuk mencicipi suasana kampus apik University of New South Wales. Menumpang light train, monorail, dan memanjat Sydney tower eye, melengkapi plesiran ini. Satu lagi. Merekam berbagai suasananya dengan kamera Canon ku pun menjadi kepuasan tersendiri.

Berharap sensasi amazing Sydney ini menaikkan level semangatku untuk kembali menghadapi disertasi yang masih perlu diukir di sana sini bagiannya. Setidaknya, lagi-lagi ini peluang menjadikan sebuah pengalaman, alasan untuk memanjatkan rasa syukur. Alhamdulillah.

Saturday, July 28, 2012

Sydney2: Dua orang baik

Perlu mencatat dua orang yang melakukan hal sederhana tapi bermakna, yang membantu aku dan sahabatku selama di Sydney. Yang pertama, Om Edy, pria menjelang 60 tahun yang telah menetap di Sydney lebih 30 tahun. Yang kedua, mas Khairul Anam, dosen dari sebuah PTN di Jawa Timur yang sedang mengambil PhD nya di bidang engineering di UTS.

Kenal dengan mertuaku, Om Edy antusias sekali ingin membantu menjemput ke Bandara dan mengantarkan kami ke penginapan. “Nanti telpon saja atau SMS, kasih tahu pakai pesawat apa dan baju apa. Nanti Om Edy jemput.” katanya menawarkan. “Om Edy pakai peci nasional” ulangnya lagi lewat SMS, menjelang kami take off. Dengan peci itu, tak sulit menemukan beliau saat kami mendarat. Bantuannya sangat memudahkan, karena kami harus ke dua tempat sekaligus. Walaupun lokasi penginapan tidak jauh dari stasiun, karena sudah gelap, hampir pasti kami akan kerepotan kalau tidak diantar. Baru kenal lewat telpon, namun merelakan 2 jam an waktunya memang bukan luar biasa. Tapi, begitu bermakna untuk kami. Dia memaksa untuk mengantar kami ke bandara lagi saat pulang. Keikhlasannya membantu, dan mudah2nya akses ke bandara dengan kereta, membuatku lebih pantas untuk menolak tawaran ini.

Mas Anam sudah kuhubungi sejak 3 minggu sebelum berangkat, untuk mencari tahu alternatif penginapan dan transportasi selama kursus. Pria lajang ini selalu responsif menjawab email atau telpon. Dia sempatkan menemui kami di sela-sela rehat kursus, dan dengan kehangatannya kami langsung akrab. Sempat juga dibawanya kami makan siang di common room postgraduatenya. Hampir setiap hari selama kami di Sydney, mas Anam selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami soal UTS, soal kereta, soal bus dan tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Tidak jarang, beliau menyempatkan diri membuka dulu google map, bahkan mencetakkannya untuk kami, jika kebingungan dengan satu lokasi. “Nggak apa-apa, pak. Nggak usah sungkan-sungkan..” katanya setiap kali aku berbasa-basi sudah merepotkan dia. Tak ada nada keberatan dan terganggu di suaranya. Hanya ketulusan.

Saat pulang, aku pastikan pamit dan berterima kasih lewat sms pada dua orang baik ini, berikut kalimat “Jazakumullahu Khairan”. “Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal”

Friday, July 20, 2012

Sydney1: 5-days course

Satu minggu penuh di akhir Juni aku berada di Sydney. Tujuan utamanya adalah mengikuti kursus Advanced Structural Equation Modeling (SEM) using AMOS yang di selenggarakan ACSPRI, sebuah konsorsium pelatihan riset. Aku membutuhkan kursus ini untuk mematangkan penggunaan analisis ku pada disertasi. Di kampus ku, ECU, masih sangat jarang staf akademik yang mahir dengan SEM. Kedua, aku pikir,pengetahuanku tentang SEM dan AMOS ini akan membuka peluang untuk melakukan penelitian yang lebih menarik. Alasan ketiga, mengunjungi Sydney adalah leisure. Bagi pelajar di Perth, mengunjungi belahan timur Australia, antara Sydney, Melbourne atau Brisbane, menjadi pertimbangan tersendiri. Seperti ada yang kurang, kalau kita 3 tahunan di Australia Barat, tapi tidak mampir ke salah satu negara bagian itu.

Aku berangkat bersama seorang sahabat dari school of management ECU. Secara keseluruhan, mengikuti kursus yang diselenggarakan di University of Technology Sydney ini menyenangkan. Pertama, pengajarnya memang seorang pakar dalam bidang SEM dan AMOS. Kedua, bahan-bahan yang diberikan sangat lengkap, terutama yang bersifat data dan panduan. Ketiga, peserta mendapat kesempatan untuk konsultasi “one-to-one” yang langsung membahas masalah dengan data penelitian masing-masing. Meski pada dua hari terakhir kami agak keteteran mengikuti materi yang cukup kompleks dan baru kami kenal, toh kami tetap merasa beruntung karena mendapatkan wawasan baru. Suasana kelas yang pesertanya kebanyakan staf dosen dan peneliti yang sudah mahir dengan statistik, memberi dorongan tersendiri untuk memajukan diri.

Beberapa hari diantara hari kursus, kami sempat tinggal lebih lama di laboratorium, mencoba mempraktekkan yang telah kami peroleh: mengutak-atik kesesuaian model dan data yang kami miliki. Begini enaknya kalau punya sahabat rajin dan pintar. Aku merasa beruntung sahabatku ini menularkan determinasinya untuk hasil yang optimal dalam analisis thesis. Dalam suasana up-and-down dengan hasil yang kadang memelas, kadang melegakan, kami berdiskusi dan saling menyemangati.

5 hari penuh mengikuti kursus tingkat lanjut, menyadarkanku lagi, betapa hasrat belajar, keinginan untuk berkembang, serta kekukuhan menjadi lebih baik dari sebelumnya, adalah modal utama dalam hidup.